Saturday, January 15, 2022

Cerpen

MENGALAH UNTUK MENANG Oleh: Siti Prihatin Darma anak seorang janda miskin, yang sehari-harinya berjualan sayur-mayur adalah seorana anak yang berbakti, kepada orang tua, dua tahun yang lalu ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja, sejak saat itu, ibunya yang semula ibu rumah tangga beralih provesi menjadi pedagang dengan modal uang duka cita dari perusahaan ayahnya bekerja. Saat ini Darma duduk di kelas 11 di salah satu SMA vavorit, dia termasuk anak yang pandai bergaul, juga tergolong anak yang pandai. Sifatnya yang suka menolong dan pemurah membuatnya banyak disukai oleh teman-temannya dari berbagai jurusan yang ada di sekolahnya, juga di segani oleh adik kelasnya. Pagi ini merupakan hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas selama hampir 3 minggu. Semua anak kelas IPA 11 sudah berada di ruang, menunggu wali kelas masuk, untuk memandu penuyusunan struktur organisasi kelas. Mereka sudah akrab walau berasal dari kelas 10 yang berbeda. “Untuk ketua kelas nanti, bagaimana kalua Darma saja teman-teman” Komentar salah satu anggota kelas. “Aku setuju pendapat Budiono” Imam menimpali pendapat Budiono. “Sepakatttt” Hampir seisi kelas menyetujui usulan Budiono.. “Wakil Budiono, Sekretaris 1 Iman” Akhirnya Darma bersuara sebagai tanda setuju usulan teman-temannya. “Setuju, tinggal mencari kelengkan lainnya” Murni salah satu anggota kelas perempuan maju, dan mengambil spidol, Murni berinisiatif menuliskan susunan struktur kelas 11 IPA. “Masih kurang bendahara, 1 dan 2, sekretais 2, seksi perpus dan kebersihan” Setelah menuliskan bebepa posisi kepengurusan yang belum ada, Murni Kembali duduk, Darma kemudian maju, semua teman yang masih asik bercerita menjadi diam, seolah dikomando, semua kosentrasi memandang kea rah Darma. Sejenak sauna hening, Sehingga Ketika terdengar langkah sepatu yang berhak tinggi, seperti mendengar gendering. Pandangan mata tertuju ke pintu, Darma masih berdiri di dekat meja, Ketika tahu ada bu Sita wali kelas, masuk diikuti seorang siswa yang masih asing bagi mereka, Darma menuju ke tempat duduknya di bagian belakang. “Selamat pagi anak;anak, selamat bertemu Kembali setelah hampir 3 minggu kalian libur, tentunya kalian sekarang penuh semangat untuk belajar. Kelas kalian ada kedatangan teman baru, pindahan dari luar Jawa,” Bu Sita menerangkan jika kelas 11 IPA mendapat anggota kelas baru. “Kenalkan dirimu And” Bu Sita memerintahkan anak baru memperkenalkan diri, tidak lama Andre langsung menjalankan perintah bu Sita. “Selamat bagi teman-teman, kenalkan nama saya Andre, pindahan dari Papua karena ayahku pindah tugas dari Papua ke Jawa. saya anak pertama dari tiga saudara, kedua adik saya perempuan, hobi basket, dan saya saat ini memegan sabuk Hitam. Itu yang dapat saya perkenalkan bu,” Setelah memperkanalkan diri Andre tetap berdiri, menunggu dipersilakan duduk oleh bu Sita. Andre mengenalkan dirinya lengkap seolah hendak menunjukkan kemampuannya. “Wah Dar, sepertinya Andre akan menjadi sainganmu.” Imam berbisik ke telinga Darma. Darma tidak merespon. Sepertinya anggota kelas yang lain juga saling berbisik mendengar dan melihat cara Andre memperkenalkan diri, di mata anak 11 IPA, sepertinya Andre ingin menunjukkan kemampuan dan mengharapkan pengakuan. Bu Sita mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang masih kosong, karena memang kelas 11 IPA baru ada 29 siswa, sehingga pas ketika ada tambahan siswa baru. “Andre, silakan duduk di sebalah Budiono.” Pinta bu Sita. “Baik bu, terima kasih” Andre tidak menunggu perintah dua kali dari bu Sita, dia langsung, menuju meja Budiono. “Kita friendya?” Andre bertanya kepada Budiono, sambil meletakkan tas di meja. “Sippp” Jawab Budiono singkat, tidak tahu maksud pertanyaan Andre. “O ya Darma, tadi ibu lihat, kamu sedang berdiri di depan mau apa?” Tanya bu Sita. “Itu bu, kami tadi sedang mencoba menyusun sturktur pengurus kelas, sambil menunggu kedatangan ibu, itu di papan tulis baru ada tiga pengurus inti, masih kurang kelengkapannya.” Darma menjelaskan, mendengar penjelasan Darma bu Sita menoleh, melihat tulisan di papan tulis. “Baik Darma ayo lanjutkan, mencar anggota lainnya.” Bu Sita memerintahkan agar Darma kembali memimpin untuk mencari kelengkapan pengurus kelas yang lain. Karena diperintah bu Sita, Darma Kembali maju. “Teman-teman, pada intinya kelancaran belajar di kelas ini merupakan tanggung jawab kita bersama, sedangkan kepengurusan kelas merupakan formalitas yang harus ada, sebagai kelengkapan administrasi kelas, jadi tolong untuk teman yang ditunjuk menjadi pengurus dan disepakati teman-teman lain, mohon kesediaanya.” Darma membuka, sebelum memilih pengurus yang lain. “Setuju” Kata Budiono “Sepakat” Timpal Iman “ Sippp…” komentar Murni “Setuju, sepakat, sippp” Kata Sebagian anak 11 IPA, merangkum kata yang lebih dulu. Bu Sita tersenyum dibuatnya, oleh tingkah siswa 11 IPA yang menurutnya lucu-lucu. “Bendahara 1, Wati, bendahara 2 Susan, Sekretaris 2, Ziva, seksi perpustaan Yoga dan seksi kebersihan kelas Dado, bagaimana teman-teman, adakah yang tidak setuju?” Tanya Darma kepada teman-temannya. “Kami setuju dan sepakat dengan nama teman-teman yang terpilih.” “Iya sipp, setuju” Semua anggota kelas 11 IPA menyetujui dan yang ditunjukpun bersedia, sehingga penyusunan struktur pengurus kelas selesai dengan cepat. “Anak-anak, pengurus kelas, sudah terbentuk, pengurus kelas yang tercantum adalah formalitas saja, kalian tetap harus kerja sama dalam menjaga kelancaran belajar dan kegiata-kegiatan yang melibatkan kelas merupakan tanggung jawab bersama” Pesan bu Sita kepada siswanya. “Baik bu, sippp” Jawab anak-anak kompak. “Tettttttttt, tetttttttttt” Bel panjang dua kali berbunyi, pertanda pergantian jam atau jam pertama selesai, yang seperti biasa, jam pertama masuk hanya diisi untuk membuat pengurus kelas. “ Selamat belajar anak-anak, persiapkan diri dengan baik di minggu pertama ini.” Pesan bu Sita sebelum keluar kelas. “Baik bu, terima kasih telah membimbing kami” Kata Darma yang diikuti teman-temannya “Terima kasih bu..” Sepeninggal bu Sita, kelas sedikit ramai, mereka sibuk bercerita atau sekedar bertanya-tanya kepada Andre teman baru mereka, atau sebealiknya Andre bertanya kepada teman-teman barunya. Ada hal yang menarik perhatina Andre tentang Darma, yang menurut Andre Darma dipatuhi teman-temannya. Andre banyak bertanya tentang Darma kepada teman sebangkunya. “Sepertinya Darma mempunyai pengaruhnya di kelas ini, memang anaknya siapa sih dia?” Tanya Andre kepada Budiono. “Tidak hanya di kelas ini, sejak kelas 10 dia sudah disegani oleh teman-temannya, dia bukan anaknya siapa-siapa, biasa saja, bahkan dia tidak punya ayah.” Budiono menjawab pertanyaan Andre dengan pelan setengah berbisik, agar tidak terdengan oleh teman yang lain. Budiono merasa tidak enak jika harus membicarakan temannya. Anak 11 IPA semua diam, ketika guru Bahasa Indonesia memasuki ruangan. “Selamat pagi anak-anaka.” “Pagi Pak…” Jawab mereka serentak tanpak komando. “Darma tolong pinjan buku mobil Bahasa Indonesia di perpustakaan” Pinta Pak Dimas kepada Darma. “Baik Pak.” Jawabnya Singkat. Dimas berdiri segera diikuti Yoga, yang sudah resmi menjadi petugas perpustakaan tanpa diminta. “Gila, guru baru masuk saja sudah akrab dengan Darma.” Gerutu Andre perlahan, seperti ada rasa tidak suka. “Semua guru di sekolah ini, kenal dengan Darma” Komentar Budiono pelan walau pertanyaan Andre ditujukan untuk diri sendiri, Budiono menjawab juga. Pak Dimas mengecek seluruh anggota kelas, dia senang jam pertama di minggu pertama di kelas 11 IPA semua anak lengkap, tidak ada yang izin atan alpa. Tidak berapa lama Darma dan Yoga masuk, mereka langsung membagikan buku Bahasa Indonesia ke setiap meja. Langkah Darma diikuti oleh pandangan Andre, pandangan yang penuh selidik dan ada rasa cemburu pada Darma. Setelah membagi, Darma dan Yoga Kembali bangku masing-masing. Kelas Kembali hening, hanya ada suara Pak Dimas yang mulai menerangkan materi atau pokok bahasan yang akan dipelajari selama satu semester, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan dan diselesaiakan dalam satu semester. Seluruh siswa diam memperhatikan sambil tetap beraktivitas, ada yang membaca daftar isi, bahkan ada yang seperti siswa SD membuka-buka halaman untuk melihat seluruh gambar yang ada. Selesai menerangka pokok bahasan dan tugas yang harus dipelajari dan dikerjakan, Pak Yoga mengintruksikan agar anak-anak membentuk kelompok. “Untuk Bab I, Menyusun Prosedur, ada lima sub pokok bahasan. Masing-masing kelompok mendiskusikan sub bab tersebut, kemudian melaporkan hasil diskusinya di depan, kelompok lain boleh menanggapi setelah hasil diskusi dilaporkan atau dibacakan” Pak Dimas memberi penjelasan bagaimana urutan kerja kelompok. Dalam waktu tidak ada lima menit, semua kelompok sudah terbentuk. Pak Dimas mengedarkan pandangannya, seolah ingin mengenali satu-persatu. “Kelompok A, Darma dengan topik Mengontruksi Informasi dalam Teks Prosedur, kelompok B. Murni dengan topik Merancang Pernyataan Umum dan Tahapan-tahapan, kelompok C, Yoga dengan topik Menganalisis Strukur dan Kebahasaan Teks Prosedur, kelompod D, Budiono dengan topik Mengembangkan Teks Prosedur dan kelompod E, Iman dengan topik Melaporkan Kegiatan Membaca Buku.” Pak Dimas membagi nama kelompok sekaligus topik yang harus dibahas dalam kelompok. Semua anak segera sibuk dengan tugasnya masing-masing. Setia anggota kelompok sibuk dengan membaca materi yang dibagikan, namun ada juga kelompok yang mengerjakan sambi bercanda, ketika luput dari perhatian pak Dimas. Andre sebenarnya ingin banyak bertanya tentang Darma ke Budiono, namun ditahan keinginannya karena dalam kelompoknya ada 6 anak barangkali ada yang tidak suka dengan pertanyaannya. “Nanti anta raku ke kopsis ya, aku kan belum tahu letaknya di mana,” Pinta Andre kepada Budiono, di sela membaca materi diskusi. “Beress” Jawab Budiono singkat. Budiono dan Andre Kembali membaca materi. Diskusi belum selesai, bel tanda pelajaran selesai berbunyi, pak Dimas segera berkemas. Darma dan Yoga segera mengumpulkan buku untuk dikembalikan ke perpustakaan, sementara teman yang lain berhamburan ke luar kelas, dengan rencana masing-masing. Budiono seperti janjinya mengantar Andre ke kopsis, setelah dari kopsis Andre mengajak Budiono ke kantin. Budiono dan Andre duduk di pojok menunggu pesanan es jeruk. Sambil minum Andre terus saja, mengorek informasi tentang Darma kepada Budiono. Selesai minum, Budiono bergegas mengajak Andre untuk masuk kelas agar tidak terlambat masuk kelas. Budiono dan Andre masuk kelas, semua teman dalam kelasnya sudah duduk di bangkunya masing-masing, mereka masih asik saling bercerita dengan teman sebangku atau teman samping kiri-kanannya, Nampak riang. Anak-anak segera menghadap ke depan, begitu Pak Anton, guru fisika masuk, “Darma” ke kantor sebentar menemui Bapak” Kata Pan Anton guru fisika kelas 10nya dulu, yang juga sebagai Pembina Osis atau Waka Kesiswaan. “Baik Pak.” Sambil berkata Darma mengikuti Pan Anton keluar, semua anak saling berpandangan tidak tahu alasan Darma dipanggil pak Anton. Tidak lebih dari 10 menit Darma sudah Kembali ke kelas, dan di kelas sudah ada Guru Matamatika. Darma memberi salam dan menjelaskan alasannya keterlambatannya mengikuti pelajaran. Pak Yudi, setelah mendengarkan penjelasan Darma, mempersilakan Darma duduk untuk segera menyesuaikan. Setelah pelajaran selesai, darma menahan teman-temannya agar tidak segera pulang, Darma menjelaskan kepada teman-temanya, mengapa tadi dipanggil pak Anton, ke ruang guru. Akhir bulan ini akan ada pemiliha pengurus dan ketua OSIS, setiap kelas mengirimkan 3 calon terbaiknya untuk menjadi ketua OSIS dan Pengurus inti. “Dari kelas 11 IPA siapa yang akan mewakili menurut teman-teman, siapa yang ingin menjadi pengurus inti atau ketua OSIS?” Darma bertanya kepada teman-temannya, tak seorangpun berkata. “Aku bersedia.” Suara Andre mengagetkan teman-temannya. Seisi kelas saling berpandangan,. “Mmmm Anak baru, mau unjuk kemampuan.” Guman salah seorang, seperti tidak simpatik kepada Andre. Yang lain masih diam, “Baik, 1 Andre, dua orang lagi siapa?” Tanya Darma bijak. “ Kamu Dar” Kata Imam “Iya Dar kamu” Budiono menimpali “ Sepakat Darma dan satu calon perempuannya Murni” Yoga menegaskan, dan disetujui teman-teman lain. “Baik untuk kelas 11 IPA wakilnya adalah Andre, Aku sendiri dan Murni” Setela selesai berembug waki kelas 11 IPA, semua anak keluar kelas. Andre tanpa basa-basi langsung pergi, yang diikuti pandangan teman barunya, ada yang cuek, ada yang memendam rasa tidak suka dengan gayanya yang menurut mereka Andre sedang mencari perhatian. Temannya pulang, Darma dan Budiono menemani Darma menyerahkan catatan wakil kelas 11 IPA, kepada pak Anton. Hari berganti hari, seluruh anggota kelas 11 APA, berusaha mencari dukungan ke kelas-kelas lain, secara tidak resmi, sebelum para calon Ketos (Ketua Osis) resmi berkampanye menyampaikan program kerjanya. Semua bergerilia, persis seperti musim pilkada. Dua minggu berlalu sejak Darma dipanggil pak Anton, semua kelas yang memilik calon pengurun inti ramai, saling mencari dukungan, biar bagaimanapun bila di dalam kelasnya ada ketua OSISnya merupakan kebanggaan kelasnya. Andre terlihat sekali berambisi ingin menjadi ketua OSIS, dia berusaha mencari dukungan dari teman sekalanya, Andre membutakan diri jika teman sekelanya memberi dukungan untuk Darma. “Bud, kamu dukung aku kan, untuk menjadi Ketua Osis?” Tanya Andre di tengah teman-temanya sebelum pelajaran mulai. Semua teman yang mendengar saling pandang. “Kita sudah satu suara untuk dukungan ketua OSIS kepada Darma” Jawab Budiono, singkat dan jelas. “Eh Bud, memang aku menurut kamu tidak pastaskah, menjadi Ketua Osis?” Andre tertanya, ada nada marah karena tersinggung. Dia merasa direndahkan. “Apa sih kelebihan Darma?” Andre mulai terang-terangan, meremehkan Darma. “Hai Dre, kamu kan anak baru belum genap satu bulan, mana tahu kelebihan Darma…” Komentar Imam yang kurang suka dengan gaya Andre. “Kamu benar Dre, aku tidak mempunyai kelebihan apa-apa, jika dibandingkan kamu” Darma meras risih, disbanding-bandingkan. “Aku jika Darma pernah membawa tropi juara satu, pencak silat, aku juga tahu Darma seriing mendapat tropi kejuaraan di bidang akademik, adan aku juga tahu kalua dia memilik sabuk hitam sepertiku” Kata Andre Panjang lebar, semua teman-temanya saling tatap, seolah tidak percaya, mendapat teman baru yang sok, jauh dari kebiasaan anak-anak 11 IPA, yang semua rendah hati, kecuali Andre yang pendatang baru di kelasnya. Sementara Darma diam tidak terpancing. “Jangan khawatir Dre, aku dukung kamu.” Kata Darma santai, berusaha membuat suasana Kembali tenang. Karena gara-gara Andre, banyak temanya saling bisik, membiacarakn tingkah Andre. Mendengar kalimat Darma, Andre bukanya tenang, dia malah tersinggung. Andre mendekati Darma, semua temanya melihat saja, mereka terkejut, ketika Andre menarik krah baju Darma. “Andre! Apa-apaan kamu…!” Bentak Iman, anak-anak perempuan ketakuatan seandainya terjadi perkelahian. Andre melepas cengkeraman krah baju Darma. Darma membetulkan krah baju yang berantakan dan Kembali duduk dengan tenang. “Kembali ketempat dudukmu Dre!” bentak Imam. “Keren juga Iman” Guman Lindri, terkesima oleh ketegasan Imam, yang langsung membuat Andre melepas cengkeramannya dan Kembali ke tempat duduknya. “Aku tunggu kam Dar, sepulang sekolah di lapangan olahraga, kit acari keringat Bersama” Kata Andre meninggalkan Darma. Darma tidak merespon. Kelas 11 IPA menjadi ramai, akibat perbuatan Andre, Budiono juga diam membisu, Nampak tidak suka duduk dengang Andre, namun dia harus tetap tenang agar permasalahan tidak melebar. Bu Sita masuk, semua anak diam, semua kosentrasi tinggi, tidak ada yang bersuara, suasana menjadi tegang tidak seperti biasanya, walau pelan masih ada bisik-bisik atau bercanda dengan mencuri-curi, jika bapak ibu guru sedang lengah. Sampai pelajaran bu Sita selesai semua tenang sampai jam pulangpun mereka masih terliputi ketegangan yang diciptakan oleh Andre. Tentang Penulis Penulis dilahirkan pada tanggal 30 Desember dengan nama lengkap Siti Prihatin, dan biasa dipanggil Bu Atin oleh teman-temanya. Mengenyam Pendidikan formal dari SD-MA di Pemalang, dan Jenjang S1 -S2 di Semarang. Saat ini aktif mengajar di SMP Negeri 3 Pemalang dipercaya mengampu mata pelajaran Bahasa Jawa dari tahun 1999 hingg saat ini (2021). Hobinya adalah menuangkan imajinasi dalam tulisan, tulisannya pertamanya dalam bentuk cerkak (cerita cekak) atau cerpen berbahasa Jawa, terbit di tabloid Jawa Anyar Solo, pada tahun 1994, cerpen pertama yangberjudul Tragedy tresnane Safitri, menjadi ketagihan menulis, beberapa cerita diantaranya Tinggal Landas untuk Kekasih, (cerpen) Tembang-tembang Senja (Novel) berusaha mengasah kemampuannya dengan mengikuti pelatihan menulis, tidak malu bertanya kepada para seniornya. Coretan geguritan atau puisi berbahasa Jawa dihimpun dalam antologi puisi Bahasa Jawa “Reroncening Pangarep”

Wednesday, March 10, 2021

DAFTAR NILAI BAHASA JAWA SEMENTARA KELAS 9 SEMESTER 2 TP 2021

Tuesday, March 9, 2021

DAFTAR NILAI SEMESTARA BAHASA JAWA KELAS 9 C-J, SEMESTER 2

Labels:

Saturday, March 6, 2021

Pathokan Tembang Macapat

 

Labels:

Covid 19 Menuntut Guru Harus Keluar dari “Zona Nyaman”



Di era digital semua informasi mudah didapat secepat kilat, permasalahan yang ingin kita ketahui dengan mudah dicari jawaban maupun pemecahannya di google, yang sering kita dengan cari di mbah google. Apakah dengan demikian kehadiran guru tidak diperlukan lagi di depan kelas? Google mungkin lebih pintar dari guru, tapi satu yang tidak bisa dilakukan oleh google, yaitu menanamkan pengertian, memberikan contoh nyata dalam rangka menanamkan karakter. Secanggih apapun teknologi yang digunakan dalam dunia Pendidikan, kehadiran guru mutlak diperlukan dan tidak bisa digantikan.

Ketikan kita mengalami musibah pandemi Covid19, yang mengharuskan semua bekerja dari rumah termasuk proses belajar mengajar, dua semester sudah kita melaksanakan proses pembelajaran melalui jaringan, dan menginjak semester ke-3, tanda-tanda pembelajaran Kembali ke dalam kelas belum ada. Kita sepertinya harus melaksanakan proses belajar mengajar masih dalam daring atau pembelajaran dalam jaringan.

Pada pembelajaran daring semester 1 dan 2 kemarin, semua guru memberi tugas kepada siswa dengan harapan siswa belajar mandiri, membaca materi dan mengerjakan tugas sesuai petunjuk dari bapak ibu guru, baik melalui google class, google form, one not atau yang lainnya, yang dijadikan sarana mengajar. Bapak Ibu guru bekerja keras jauh sebelum waktu pembelajaran para guru sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan harapan prses pembelajaran lancer dan hasil sesuai target.

Kenyaataan di lapangan, dilihat dari hasil pekerjaan yang ditugaskan, banyak yang tidak sesuai harapan, kualitas pengerjaan tugas siswa sangat buruk, lambat mengumpulkan, tidak mengumpulkan, asal mengerjakan sehingga jika mau jujur nilai yang diberikan belum memenuhi standar KKM, sehingga banyak guru yang harus menurunkan gradenya, agar siswa memperoleh nilai minimal KKM. Melihat kenyataan ini tentu kita, sebagai guru tidak boleh menyerah, kita harus berusaha lebih keras agar pembelajaran bisa lebih menarik perhatian siswa, karena kanyataan dalam proses pembelajaran banyak siswa yang tidak mengikuti, atau mengikuti hanya mengisi presentsinya saja, setelah mengisi presentsi siswa meninggalkan atau keluar dari room pembelajaran.

Hal ini mungkin disebabkan banyak factor, yang bisa saja di antaranya kebosanan dan kejenuhan siswa dengan cara kita mengajar. Yang kurang bisa menarik perhatian siswa, (ekstrimya pembelajaran yang kita buat tidak menarik siswa) jika kita hanya share materi di grup wa, lalu intruksi agar siswa mengerjakan tugas kemudian mengumpulkan. Jika ada guru yang dalam proses pembelajaran hanya share materi kemudian memberi perintah ini itu kepada siswa, inipun bisa kita maklumi, karena selama ini kita belum pernah atau masih jarang menggunakan teknologi dalam pembelajaran, masih banyak guru yang enggan keluar dari “zona nyaman”, untuk belajar kembali, masih banyak guru merasa cukup dengan apa yang sudah mereka “miliki” masih banyak yang enggan mempelajari teknologi untuk pembelajaran.

Revolusi industri sudah 0,4 bahkan nyaris 0,5 semakin maju, pembelajaran dituntut harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Pada masa pandemic Covid 19 ini, merupakan momentum yang tepat, guru mau tidak mau harus keluar dari “zona nyaman” mengajar ala kadarnya, guru harus bisa mengembangkan diri, mulai membiasakan diri mengajar menggunakan teknologi. Membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif menggunakan teknologi, untuk bisa, semua perlu proses, perlu ketekunan dan ketelatenan mempelajari hal-hal yang semula asing, kita tidak perlu minder dan malu pada tema-teman guru yang menguasai teknologi pembelajaran lebih dahulu.

Saat ini, dengan adanya pandemi Covid 19, Pemerintah mengintrusksikan pembelajaran dari rumah (BDR) dan guru bekerja dari rumah (WFH) Work From Home. Workshop[-workshop yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran daring (dalam jaringan) banyak diselenggarakan, baik oleh instasin pemerintah maupun organisasi-organisasi Pendidikan lain. Hal ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad 21, bahwa pendidik dan peserta didik dituntut memiliki kemampuan belajar mengajar abad 21.

Guru harus benar-benar sadar, bahwa peranya sangat penting di dalam memajukan generasi yang akan dating, oleh karena itu keluar dari “zona nyaman” mutlak diperlukan tanpa adanya kesediaan mengubah kebiasaan yang biasa, menjadi luar biasa, tujuan dan cita-cita mulia yaitu Pendidikan Nasional Abad 21 yang bertujuan untuk memwujudkan cita-cita bangsa, masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri atas sumber daya manusia yang berkualitas, menjadi pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudnya cita-cita bangsanya sulit terwujud.




Labels:

Saturday, July 18, 2020

Uji Coba Zoom Meeting Kelas &, A, C dan E